Halaman

Kamis, 25 April 2013

Jenis-jenis Metode Pembelajaran


a.    Jenis-jenis Metode Pembelajaran
Menurut Nana Sudjana, metode mengajar ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran[1].
Adapun menurut Hamzah B. Uno dalam bukunya menyatakan bahwa metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru, yang dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran.[2]
Sedangkan menurut Wina Sanjaya, metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal.[3] Berikut ini merupakan penjabaran dari berbagai jenis-jenis metode adalah:
1.                Diskusi
Menurut Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus dalam bukunya mengatakan bahwa metode diskusi adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui wahan tukar pendapat dan informasi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh guna memecahkan suatu masalah, memperjelas sesuatu bahan pelajaran dan mencapai kesepakatan.[4]
Kelebihan metode diskusi adalah:
a.         Mendorong partisipasi dan kreativitas siswa untuk memberikan sumbangan pemikiran terhadap permasalahan yang sedang didiskusikan.
b.        Mengembangkan sikap toleransi, demokratis, kritis, berfikir sistematis dan menghargai pendapat orang lain.
c.         Membiasakan siswa untuk bermusyawarah dalam mengambil suatu keputusan untuk kepentingan bersama.
d.        Siswa belajar mematuhi peraturan dan tata tertib yang berlaku dalam diskusi.
e.         Memperluas wawasan dan cakrawala berfikir siswa.
Kelemahan metode diskusi adalah:
a.       Tidak semua siswa memiliki kesempatan berpatisipasi memberikan sumbangan pemikiran terhadap permasalahan yang sedang dibahas, karena keterbatasan waktu.
b.      Terjadinya penyimpangan pembahasan dan perdebatan yang tidak perlu serta memakan waktu yang panjang.
c.       Hasil diskusi sulit diramalkan
d.      Tidak dapat dipakai kelompok besar
e.       Peserta mendapat informasi yang terbatas
2.    Ceramah
Metode ceramah dapat diartikan sebagai cara penyajian pelajaran melalui penuturan secara lisan atau penjelasan langsung kepada sekelompok siswa.[5]
Kelebihan metode ceramah adalah:
a.       Ceramah merupakan metode yang ‘murah’ dan ‘mudah’ untuk dilakukan. Murah dalam hal ini dimaksudkan proses ceramah tidak memerlukan peralatan-peralatan yang lengkap, berbeda dengan metode yang lain seperti demonstrasi atau peragaan. Sedangkan mudah, memang ceramah hanya mengandalkan suara guru, dengan demikian tidak terlalu memerlukan persiapan yang rumit.
b.      Ceramah dapat menyajikan materi pelajaran yang luas. Artinya, materi pelajaran yang banyak dapat dirangkum atau dijelaskan pokok-pokoknya oleh guru dalam waktu yang singkat.
c.       Ceramah dapat memberikan pokok-pokok materi yang perlu ditonjolkan. Artinya, guru dapat mengatur pokok-pokok materi yang mana yang perlu ditekankan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai.
d.      Melalui ceramah, guru dapat mengontrol keadaan kelas, oleh karena sepenuhnya kelas merupakan tanggung jawab guru yang memberikan ceramah.
e.       Organisasi kelas dengan menggunakan ceramah dapat diatur menjadi lebih sederhana. Ceramah tidak memerlukan setting kelas yang beragam, atau tidak memerlukan persiapan-persiapan yang rumit. Asal siswa dapat menempati tempat duduk untuk mendengarkan guru, maka ceramah sudah dapat dilakukan.
Kelemahan metode ceramah adalah:
a.       Materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil dari ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru. Kelemahan ini memang kelemahan yang paling dominan, sebab apa yang diberikan guru adalah apa yang dikuasainya, sehingga apa yang dikuasai siswa pun akan tergantung pada apa yang dikuasai guru.
b.      Ceramah yang tidak disertai dengan peragaan dapat mengakibatkan terjadinya verbalisme. Verbalisme adalah “penyakit” yang sangat mungkin disebabkan oleh proses ceramah. Oleh karena itu, dalam proses penyajiannya guru hanya mengandalkan bahasa verbal dan siswa hanya mengandalkan kemampuan auditifnya. Sedangkah, disadari bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang tidak sama, termasuk dalam ketajaman menangkap materi pembelajaran melalui pendengarannya.
c.       Guru yang kurang memiliki kemampuan bertutur yang baik, ceramah sering dianggap sebagai metode yang membosankan. Sering terjadi, walaupun secara fisik siswa ada di dalam kelas, namun secara mental siswa sama sekali tidak mengikuti jalannya proses pembelajaran; pikirannya melayang ke mana-mana, atau siswa mengantuk, oleh karena gaya bertutur guru tidak menarik.
d.      Melalui ceramah, sangat sulit untuk mengetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti apa yang dijelaskan atau belum. Walaupun ketika siswa diberi kesempatan untuk bertanya, dan tidak seorang pun yang bertanya, semua itu tidak menjawab siswa seluruhnya sudah paham.
3.      Kerja kelompok
Menurut Robert L.Cilstrap dan William R.Martin dalam buku karangan Roestiyah N.K menjelaskan pengertian kerja kelompok sebagai kegiatan sekelompok siswa yang biasanya berjumlah kecil, yang diorganisir untuk kepentingan belajar. Keberhasilan belajar kelompok ini menuntut kegiatan yang kooperatif dari beberapa individu tersebut.[6]
Kelebihan dari penggunaan metode kerja kelompok adalah:
a.       Dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menggunakan keterampilan bertanya dan membahas sesuatu masalah.
b.      Dapat memberikan kesempatan pada para siswa untuk lebih intensif mengadakan penyelidikan mengenai sesuatu kasus atau masalah.
c.       Dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan mengajarkan keterampilan berdiskusi.
d.      Dapat memungkinkan guru untuk lebih memperhatikan siswa sebagai individu serta kebutuhannya belajar.
e.       Para siswa lebih aktif tergabung dalam pelajaran mereka, dan lebih aktif berpatisipasi dalam diskusi .
f.       Dapat memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengembangkan rasa menghargai dan menghormati pribadi temannya, menghargai pendapat orang lain; hal mana mereka telah saling membantu kelompok dalam usahanya mencapai tujuan bersama.
Kelemahan dari penggunaan metode kerja kelompok adalah:
a.         Kerja kelompok sering-sering hanya melibatkan kepada siswa yang mampu sebab mereka cakap memimpin dan mengarahkan mereka yang kurang.
b.         Metode ini kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk yang berbeda-beda dan gaya mengajar yang berbeda pula.
c.         Keberhasilan metode ini tergantung kepada kemampuan siswa memimpin kelompok atau untuk bekerja sendiri.
4.      Penemuan/discovery
Menurut Sund dalam bukunya Roestiyah N.K mengatakan bahwa metode penemuan merupakan proses mental dimana siswa mampu mengasimilasikan suatu proses atau prinsip-prinsip.[7]
Kelebihan metode penemuan adalah:
a.         Metode ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan; memperbanyak kesiapan; serta pengguasaan keterampilan dalam proses kognitif/pengenalan siswa.
b.        Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat sangat pribadi /individual sehingga dapat kokoh/mendalam tertinggal dalam jiwa tersebut.
c.         Dapat membangkitkan kegairahan belajar pada siswa.
d.        Metode ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai denga kemampuan masing-masing.
Kelemahan metode penemuan adalah:
a.         Pada siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaaan sekitarnya dengan baik.
b.        Bila kelas terlalu besar penggunaan teknik ini akan kurang berhasil.
c.         Bagi guru dan siswa yang tidak terbiasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan metode penemuan.
d.        Dengan metode ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan/pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.
5.      Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan. Sebagai metode mengajar, simulasi diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.[8]
Kelebihan metode simulasi adalah:
a.    Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
b.   Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan.
c.    Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri.
d.   Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
e.    Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran.
Kelemahan metode simulasi adalah:
a.       Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalui tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
b.      Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
c.       Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan simulasi
Langkah-langkah simulasi
a.       Persiapan simulasi
·      Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi.
·      Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan.
·      Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi, peran yang harus dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disediakan.
·      Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa yang terlibat dalam pemeranan simulasi.
b.      Pelaksanaan simulasi
·      Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran.
·      Para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.
·      Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan.
·      Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong siswa berfikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.
c.       Penutup
·      Melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi maupun materi cerita yang disimulasikan. Guru harus mendorong agar siswa dapat memberikan kritik dan tanggapan terhadap peran pelaksanaan simulasi.
·      Merumuskan kesimpulan

6.      Unit teaching
Menurut Roestiyah N.K mengatakan dalam bukunya bahwa unit teaching adalah teknik ini memberi kesempatan siswa belajar secara aktif dan guru dapat mengenal dan menguasai cara belajar secara unit. Jika tidak ada guru maka pengajaran dapat diatasi dengan adanya pengajaran unit. Unit teaching disebut juga pengajaran unit, pengajaran proyek, atau disebut pula unit saja.[9]
Kelebihan dari metode unit teaching adalah:
a.         Murid bisa menggunakan sumber-sumber materi pelajaran secara luas.
b.        Dalam pelaksanaan teknik ini dapat direalisir prinsip-prinsip psikologi belajar yang modern.
c.         Pengajaran ini menimbulkan suasana kelas lebih demokratis.
Kelemahan dari metode unit teaching adalah:
a.       Dalam perencanaan metode ini agak sulit.
b.      Dalam melaksanakan unit memerlukan kecakapan, ketekunan, dan perhatian guru dalam mencurahkan bimbingan kerja siswa.
c.       Ada kemungkinan pelajaran yang disajikan terlalu luas sehingga pengetahuan siswa tidak terlalu mendalam.
d.      Memerlukan seorang ahli yang betul-betul menguasai masalah karena semua masalah belum tentu dapat dijadikan unit.
7.      Sumbang saran/brain storming
Brain storming menurut Roestiyah N.K adalah suatu teknik atau cara mengajar yang dilaksanakan oleh guru di dalam kelas, dengan melontarkan suatu masalah ke kelas oleh guru. Kemudian siswa menjawab atau menyatakan pendapat, atau komentar sehingga masalah tersebut berkembang menjadi masalah baru atau dapat diartikan pula sebagai satu cara untuk mendapatkan banyak ide dari sekelompok manusia dalam waktu yang sangat singkat.[10]
Metode ini merupakan metode yang merangsang berfikir dan menggunakan wawasan tanpa melihat kualitas pendapat yang disampaikan oleh siswa. Guru hanya melihat jalan pikiran siswa, pendapat, serta motivasi mengeluarkan pendapat.[11]
Keunggulan dari metode brain storming adalah:
a.       Anak-anak aktif berfikir untuk menyatakan pendapat.
b.      Melatih siswa berfikir dengan cepat dan tersusun dengan logis.
c.       Merangsang siswa untuk selalu siap berpendapat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan oleh guru.
d.      Meningkatkan partisipasi siswa dalam menerima pelajaran.
e.       Siswa yang kurang aktif mendapat bantuan dari temannya yang pandai atau pun dari guru.
Kelemahan dari metode brain storming  adalah:
a.         Guru kurang memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berfikir dengan baik.
b.        Siswa  yang kurang selalu ketinggalan.
c.         Kadang-kadang pembicaraan hanya dimonopoli oleh siswa yang pandai saja.
d.        Guru hanya menampung pendapat tidak pernah merumuskan kesimpulan.
e.         Siswa tidak segera tahu apakah pendapatnya itu betul/salah.[12]
8.      Inquiry
Pelaksanaan metode inquiry adalah guru membagi tugas meneliti sesuatu masalah ke kelas. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus dikerjakan. Kemudian mereka mempelajari, meneliti atau membahas tugasnya di dalam kelompok. Setelah hasil kerja mereka dalam kelompok didiskusikan kemudian dibuat laporan yang tersusun dengan baik.[13]
Kelebihan dari metode inquiry adalah:
a.         Dapat membentuk dan mengembangkan “self concept” pada diri siswa sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
b.        Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.
c.         Mendorong siswa untuk berfikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka
d.        Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu
Kelemahan dari metode inquiry adalah dalam proses belajar, siswa memerlukan waktu untuk berfikir dan memperoleh pengertian tentang konsep, prinsip dan teknik menyelidiki masalah.[14]
9.      Eksperimen
Metode eksperimen adalah cara mengajar dengan cara siswa diajak untuk melakukan serangkaian percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari secara teori.[15] Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa secara perorangan atau kelompok untuk melakukan percobaan atau praktikum.[16] Dengan metode ini siswa diasah untuk cermat, terampil, dan aktif melakukan perencanaan, pengumpulan data, pengamatan, penemuan, hingga menarik kesimpulan.
Kelebihan metode eksperimen adalah:
a.         Memberikan pengalaman praktis kepada siswa
b.        Menumbuhkan kepercayaan atas kesimpulan berdasarkan percobaan
c.         Membina dan memupuk siswa menjadi ahli peneliti yang dapat menghasilkan penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi umat manusia.
d.        Memberikan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam diri siswa berkaitan dengan hal yang diujicobakan.
Kelemahan metode eksperimen adalah:
a.         Memerlukan waktu yang lama
b.        Metode ini lebih sesuai digunakan untuk bidang sains dan teknologi
c.         Anak akan mengalami kesulitan bila langsung mengadakan eksperimen
d.        Diperlukan berbagai fasilitas dan peralatan dalam pelaksanaannya
e.         Memerlukan keuletan, ketelitian, dan ketabahan siswa dalam melaksanakannya.
f.         Tidak semua eksperimen menghasilkan seperti apa yang diharapkan atau yang diteorikan, karena adanya faktor-faktor di luar jangkauan atau pengendalian guru atau siswa.
10.  Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan.[17]
Adapun menurut Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus dalam bukunya mengatakan bahwa metode demonstrasi adalah suatu cara mengajar dengan mempertunjukkan cara kerja suatu benda.[18]
Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
a)        Kelebihan dan kelemahan metode demonstrasi
Sebagai suatu metode pembelajaran demonstrasi memiliki beberapa kelebihan, diantaranya:
1)      Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
2)      Proses pembelajaran akan lebih menarik, sebab siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi.
3)      Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan. Dengan demikian siswa akan lebih menyakini kebenaran materi pembelajaran.
Di samping beberapa kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya:
1)  Metode demonstrasi memerlukan persiapan yang lebih matang sebab tanpa peralatan yang memadai demonstrasi bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi. Bahkan sering terjadi untuk menghasilkan pertunjukkan sssuatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak.
2) Demonstrasi memerlukan peralatan, bahan-bahan, dan tempat yang memadai yang berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah.
3)  Demonstrasi memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus, sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional. Di samping itu demonstrasi juga memerlukan kemauan dan motivasi guru yang bagus untuk keberhasilan proses pembelajaran siswa.
b)        Langkah-langkah menggunakan metode demonstrasi
1)      Tahap persiapan
a.         Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir. Tujuan ini meliputi beberapa aspek seperti aspek pengetahuan, sikap, atau keterampilan tertentu.
b.        Persiapan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Garis-garis besar langkah demonstrasi diperlukan sebagai panduan untuk menghindari kegagalan.
c.         Lakukan uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang diperlukan.
2)      Tahap pelaksanaan
a.         Langkah pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya:
·      Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
·      Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa.
·      Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh siswa misalnya siswa ditugaskan unuk mencatat hal-hak yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
b.        Langkah pelaksanaan demonstrasi
·      Mulailah demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berfikir, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong siswa untuk tertarik memperhatikan demonstrasi.
·      Ciptakan suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan.
·      Yakinkan bahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memperhatikan reaksi seluruh siswa.
·      Berikan kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengna apa yang dilihatdari proses demonstrasi itu.
c.         Langkah mengakhiri demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran diakhiri dengan memmberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk menyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demontrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.[19]
11.  Karyawisata
Metode kunjungan dalam proses pembelajaran sering disebut juga dengan karyawisata. Cony Semiawan mendefinisikan metode karyawisata adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan membawa siswa langsung kepada objek yang akan dipelajari yang terdapat di luar kelas.[20]
Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Syaiful yang mendefinisikan metode karyawisata adalah cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari/menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, suatu peternakan atau perkebunan, museum dan sebagainya.[21]
Kelebihan metode karyawisata
Kelebihan metode kunjungan atau karyawisata[22] adalah sebagai berikut:
a.         Menumbuhkan rasa cinta kepada lingkungan alam, budaya, dan potensi yang dimiliki bangsa indonesia.
b.        Memberikan variasi belajar.
c.         Memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
d.        Meningkatkan wawasan.
e.         Menumbuhkan kebersamaan dan kerja sama dalam kelompok.
Kelemahan metode karyawisata
Adapun kelemahan dari metode karyawisata dalam pembelajaran[23] sebagai berikut:
a.         Pada umumnya akan menggunakan jam pelajaran yang banyak sehingga menganggu jam mata pelajaran lainnya.
b.        Tidak semua siswa memperhatikan obyek yang sama sehingga pengetahuan mereka tidak sama.
c.         Jika suatu objek dijelaskan oleh petugas, belum tentu semua siswa akan mendengarkan dan belum tentu pula petugas tersebut cukup jelas menerangkannya. Sebagaimana diketahui, tidak semua siswa dapat menangkap pembicaraan dan mencatatnya dengan tulisan yang tepat.
d.        Sukar untuk mempertahankan disiplin dan ketertiban.
12.  Kerja lapangan
Metode kerja lapangan adalah cara mengajar dengan jalan mengajak siswa ke suatu tempat di luar sekolah, yang bertujuan tidak hanya sekedar mengadakan observasi atau peninjauan saja tetapi langsung terjun turut aktif/berpartisipasi ke lapangan kerja. Sehingga siswa dapat mengadakan penyelidikan sendiri di dalam pekerjaan yang ada di masyarakat.[24]
Kelebihan dari metode kerja lapangan adalah:
a.         Siswa mendapat kesempatan untuk langsung aktif bekerja di lapangan.
b.        Siswa mendapat pemahaman mengenai kelebihan dan kekurangan dari pekerjaaan tersebut.
c.         Bila ada kesulitan siswa dapat mencari jalan keluar dari masalah di pekerjaan.
Kekurangan dari metode kerja lapangan adalah:
f.         Waktu yang terbatas sehingga tidak memperoleh pengalaman yang mendalam mengenai pekerjaan tersebut.
g.        Memerlukan biaya yang lumayan banyak dalam pelaksanaannya.
h.        Memerlukan persiapan yang matang dalam pelaksanaannya.
i.          Tidak tersedianya trainer/guru/pelatih yang ahli sehingga siswa kurang persiapan dan pembinaan sewaktu akan melaksanakan latihan.
13.  Sosiodrama dan bermain peran/roll-playing
Menurut Wina Sanjaya dalam bukunya mengatakan bahwa metode sosio drama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja, narkoba, gambaran keluarga yang otoriter dan lain sebagainya.[25]
Adapun menurut Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus dalam bukunya mengatakan bahwa metode bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan imanijatif, daya ekspresi, dan penghayatan.[26]
Kelebihan metode bermain peran
a.    Melatih siswa memahami, dan mengingat isi bahan yang akan diperankan dan didramakan.
b.   Menumbuhkan kerjasama khususnya antara mereka yang mendapatkan peran sosio-drama.
c.    Melatih bakat dan kreatif siswa di bidang seni peran.
d.   Melatih cara berfikir siswa dan kemampuan bahasa secara lisan.
Kelemahan metode bermain peran
a.       Memerlukan waktu yang lama
b.      Tidak semua siswa mendapat kesempatan berkreativitas karena peran hanya dimainkan oleh beberapa orang saja.
c.       Kadang siswa yang telah ditunjuk malu untuk memainkan peran yang telah ditentukan.
d.      Kadang memerlukan waktu dan tempat yang khusus.
e.       Respon dan komentar siswa dapat menganggu kelas lain yang sedang melakukan kegiatan belajar.
f.       Apabila dramatisasi mengalami kegagalan tidak bisa diambil kesimpulan
14.  Latihan/drill
Metode latihan/drill adalah suatu cara mengajar dimana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan agar siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari.[27]
Kelebihan dari metode latihan/drill adalah:
a.         Memiliki keterampilan motorik/gerak, seperti menghafalkan kata-kata, menulis, mempergunakan alat/membuat suatu benda, dan melaksanakan gerak dalam olahraga.
b.        Mengembangkan kecakapan intelek, seperti mengalikan, membagi, menjumlahkan, mengurangi, dan sebagainya.
c.         Memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan hal lain, seperti menghubungkan sebab akibat terjadinya hujan dan banjir, penggunaan lambang/simbol di dalam peta dan lain-lain.
Kelemahan dari metode latihan/drill adalah:
a.         Kadang-kadang latihan itu langsung dijalankan tanpa penjelasan sebelumnya sehingga siswa tidak memahaminya.
b.        Siswa melakukan tanpa mengerti maksud tujuan latihan itu sehingga terjadi verbalisme pada siswa.
c.         Keterampilan yang diperoleh siswa umumnya menetap/pasti sehingga menjadi kebiasaan yang kaku.[28]
15.  Tanya jawab/dialog
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pengajaran oleh guru dengan memberikan pertanyaan oleh guru dengan memberikan pertanyaan dan meminta jawaban kepada siswa.[29] Metode tanya jawab dapat merangsang siswa untuk dapat mengemukakan pendapat dan pikiran masing-masing. Melalui pertanyaan yang diajukan oleh guru, siswa terdorong untuk mencari jawaban yang tepat dan memuaskan dengan merangkai pengetahuan-pengetahuan yang telah dimilikinya. Apabila pengetahuan yang telah dimilikinya kurang memadai untuk menjawab pertanyaan atau permasalahan yang diajukan, siswa akan tertantang untuk menjelajahi data-data jawaban yang melalui berbagai cara yang tepat dengan membaca, meneliti atau penelitian di laboratorium.
Kelebihan metode tanya jawab adalah:
a.         Dapat menarik perhatian siswa walaupun kelas dalam keadaan kurang terkendali.
b.        Melatih dan merangsang daya nalar serta daya ingatan siswa.
c.         Melatih keterampilan menjelaskan serta keberanian mengemukakan pendapat secara lisan dengan tertib dan teratur.
Kelemahan metode tanya jawab adalah:
a.         Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat kemampuan dan pemahaman siswa.
b.        Tidak semua siswa berani mengemukakan pendapat dan terampilan menjelaskan dan memberikan jawaban yang secara lugas dan teratur.
c.         Akan banyak menyita waktu bila terjadi perbedaan dan silang pendapat.
d.        Adanya keterbatasan waktu, sehingga tidak memungkinkan seluruh siswa mendapat giliran menjawab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan.
e.         Adanya dominasi kegiatan pembelajaran oleh siswa yang memiliki keterampilan bertanya dan menjelaskan dengan kemampuan yang memadai


16.  Penugasan/resitasi
Metode tugas belajar adalah penyajian bahan pelajaran dengan memberikan tugas tertentu kepada siswa yang dapat dilakukan, di dalam atau di luar kelas, di laboratorium, di perpustakaan, di bengkel atau di rumah.[30]
Kelebihan metode penugasan adalah:
a.       Merangsang aktivitas dan kreativitas siswa dalam rangka mengisi waktu luang dengan kegiatan konstruktif dan produktif.
b.      Menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab
c.         Membiasakan anak belajar tanpa bimbingan dan pengawasan dari guru.
d.        Memberikan pengalaman kepada siswa mencari dan mengolah informasi dan sumber belajar
Kelemahan metode penugasan adalah:
a.       Sulit mengontrol dan mengawasi tugas yang dikerjakan oleh siswa.
b.      Beberapa orang siswa cenderung mengerjakan secara serampangan.
c.       Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
d.      Apabila tugas yang diberikan dalam bentuk kelompok, tidak semua berpatisipasi dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.
e.       Menimbulkan kebosanan apabila tugas yang diberikan bersifat monoton.


         [1] Darwyan Syah dkk.Ibid.hlm: 132
[2]  Hamzah B. Uno.op.cit.hlm: 2
         [3] Wina Sanjaya.2008.Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jaklarta: Kencana.hlm: 147
        [4] Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus.2011.Begini Cara Menjadi Guru Inspiratif dan Disenangi Siswa.Yogyakarta: Pustaka Widyatama.hlm: 113-114
       [5] Wina Sanjaya.Ibid.hlm: 147
        [6] Roestiyah N.K.2008.Strategi Belajar Mengajar.Jakarta: PT. Rineka Cipta.hlm: 15
        [7] Roestiyah N.K.Ibid.hlm: 20

       [8] Wina Sanjaya.Ibid.hlm: 159
       [9] Roestiyah N.K..Ibid.hlm: 23
         [10] Roestiyah N.K.Ibid.hlm:73
[11] Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus.op.cit.hlm: 126
       [12] Roestiyah N.K.Ibid.hlm: 74-75
       [13] Ibid.hlm: 75
            [14] Roestiyah N.K.Ibid.hlm: 76-77
            [15] Darwyan Syah, dkk.op cit.hlm: 153
[16]  Acep Yonny dan Sri Rahayu.Ibid.hlm: 112
        [17] Wina Sanjaya.Ibid..hlm: 152
        [18] Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus.op.cit.hlm: 114
       [19] Wina Sanjaya.Ibid..hlm: 153-154
       [20] Darwyan Syah, dkk.Ibid.hlm: 147
       [21] Ibid.
       [22] Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus.op.cit.hlm: 118
            [23] Darwyan Syah, dkk.Ibid.hlm: 150
            [24] Roestiyah N.K.op cit.hlm: 88
  [25] Wina Sanjaya.Ibid.hlm: 160-161
  [26] Acep Yonny dan Sri Rahayu Yunus.op.cit.hlm: 111
          [27] Roestiyah N.K.Ibid.hlm: 125
  [28] Roestiyah N.K.Ibid.hlm: 126-127
  [29] Darwyan Syah.op.cit.hlm: 137
[30] Darwyan Syah, dkk.Ibid.hlm: 151